Rabu, 11 Juli 2018

ANALISIS WACANA KRITIS



Resum Wacana Bahasa Indonesia
ANALISIS WACANA KRITIS
   Oleh : Ratna Agustin
A.      Pendahuluan
Pada pembahasan sebelumnya kita telas membahas hakikat wacana, prasyarat wacana, dan teks, koteks dan konteks, toeri tindak tutur, sosioinguistik interaksional, piranti kohesi dan koherensi, praanggapan, implikatur dan infereksi dieksis, wacana lisan dan non lisan, monoloh, dialog, pilolog, wacana deskripsi, eksposisi, argumentasi, persuasi dan narasi, hakikat analisis wacana. Kali ini kita membahasa mengenai analisis wacana kritis.
Analisis wacana Kritis (AWK) adalah analisis bahasa dalam penggunaannya dengan menggunakan bahasa kritis. Analisis ini dipandang sebagai oposisi terhadap analisis wacana deskriptif yang memandang wacana sebagai fenomena teks bahasa semata, karena analisis jenis ini selain berupaya memperoleh gambaran tentang aspek kebahasaan, juga menghubungkannya dengan konteks, baik itu konteks sosial, kultural, ideologi dan domain-domain kekuasaan yang menggunakan bahasa sebagai alatnya.Dalam Analisis wacana kritis ini terdapat tokoh-tokoh yang memiliki sudut pandang dan cara analisis yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Masing-masing pandangan tersebut hanya ditujukan pada satu pokok permasalahan yaitu Analisis wacana Kritis (Critical Discourse Analysis).
Dari sudut pandang para tokoh Analisis Wacana Kritis, terdapat pandangan bahwa wacana adalah alat bagi kepentingan kekuasaan, hegemoni, dominasi budaya dan ilmu pengetahuan.Untuk itu, dalam menganalisis wacana juga harus memperhatikan masalah ideologi dan sosio kultural yang melatarbelakangi penulisan suatu wacana.
B.     PENGERTIAN ANALISIS WACANA KRITIS
Analisis Wacana dalam studi linguistik merupakan reaksi dari bentuk linguistik formal (yang lebih memperhatikan pada unit kata, frase, atau kalimat semata tanpa melihat keterkaitan di antara unsur tersebut). Analisis wacana adalah kebalikan dari linguistik formal, karena memusatkan perhatian pada level di atas kalimat, seperti hubungan gramatikal yang terbentuk pada level yang lebih besar dari kalimat. Analisis wacana dalam lapangan psikologi sosial diartikan sebagai pembicaraan. Wacana yang dimaksud di sini agak mirip dengan struktur dan bentuk wawancara dan praktik dari pemakainya. Sementara dalam lapangan politik, analisis wacana adalah praktik pemakaian bahasa, terutama politik bahasa. Karena bahasa adalah aspek sentral dari penggambaran suatu subyek, dan lewat bahasa ideologi terserap di dalamnya, maka aspek inilah yang dipelajari dalam analisis wacana.
Ada tiga pandangan mengenai analisis wacana. Pandangan pertama diwakili kaum positivisme-empiris. Menurut mereka, analisis wacana menggambarkan tata aturan kalimat, bahasa, dan pengertian bersama. Wacana diukur dengan pertimbangan kebenaran atau ketidakbenaran menurut sintaksis dan semantik (titik perhatian didasarkan pada benar tidaknya bahasa secara gramatikal) disebut analisis isi (kuantitatif).
Pandangan kedua disebut  konstruktivisme. Pandangan ini menempatkan analisis wacana sebagai suatu analisis untuk membongkar maksud-maksud dan makna-makna tertentu. Wacana adalah suatu upaya pengungkapan maksud tersembunyi dari sang subyek yang mengemukakan suatu pertanyaan. Pengungkapan dilakukan dengan menempatkan diri pada posisi sang pembicara dengan penafsiran mengikuti struktur makna dari sang pembicara disebut  Analisis Framing (discourse analysis).
Pandangan ketiga disebut sebagai pandangan kritis. Analisis wacana dalam paradigma ini menekankan pada konstelasi kekuatan yang terjadi pada proses produksi dan reproduksi makna.
Bahasa tidak dipahami sebagai medium netral yang terletak di luar diri si pembicara. Bahasa dipahami sebagai representasi yang berperan dalam membentuk subyek tertentu, tema-tema wacana tertentu, maupun strategi-strategi di dalamnya. Oleh karena itu analisis wacana dipakai untuk membongkar kuasa yang ada dalam setiap proses bahasa; batasan-batasan apa yang diperkenankan menjadi wacana, perspektif yang mesti dipakai, topik apa yang dibicarakan. Wacana melihat bahasa selalu terlibat dalam hubungan kekuasaan. Karena memakai perspektif kritis, analisis wacana kategori ini disebut juga dengan analisis wacana kritis (critical discourse analysis). Ini untuk membedakan dengan analisis wacana dalam kategori pertama dan kedua (discourse analysis).
Dalam penelitian ini akan membatasi dalam hal analisis wacana kritis. Khususnya pada analisis wacana model Teun A. van Dijk. Untuk mengkaji maksud-maksud yang ada dalam bahasa yang digunakan para kandidat Pilgub di Surabaya 2008 pada saat berkampanye. Baik yang ada pada internet, spanduk, panflet, seteriker, dan koran.Analisis wacana model van Dijk sering disebut ”kognisi sosial” nama pendekatan semacam ini tidak dapat dilepaskan dari karakteristik analisis wacana model van Dijk. Menurut van Dikj penelitian  wacana tidak cukup hanya didasarkan pada analisis teks semata, karena teks hanya hasil dari praktik produksi yang harus diamati. Disini patut dilihat juga bagaimana suatu teks diproduksi. Sehingga kita dapat memperoleh suatu pengetahuan tentang kenapa suatau teks bisa semacam itu. Kalau ada teks yang memarjinalkan wanita, maka dibutuhkan suatu penelitian yang melihat bagaimana produksi teks itu bekerja, kenapa teks tersabut memarjinalkan wanita. Proses pendekatan dan produksi ini melibatkan suatu yang disebut kognisi sosial.
Berbagai masalah kompleks dan rumit itulah yang dicoba digambarakan oleh van Dijk. Oleh karenanya van Dijk tidak mengeksklusi modelnya hanya semata menganalisis teks. Tapi ia juga melihat bagaimana struktur sosial, dominasi, kelompok kekuasaan yang ada dalam masyarakat dan berpengaruh pada teks. Wacana oleh van Dijk digambarkan mempuyai tiga dimensi, diantaranya : teks, kognisi sosial, dan kontek sosial (analisis sosial). Dalam dimensi teks yang dianalisis bagaimana struktur teks dan strategi wacana yang dipakai untuk menegaskan suatu tema tertentu. Pada level kognisi sosial dipelajari bagaimana proses produksi teks berita yang melibatkan kognisi individu dari komunikator. Sedangkan, aspek analisis sosial mempelajari bagunan wacana yang berkembang dalam masyarakat akan suatu masalah. Namun dalam penelitian ini hanya memfokuskan pada dimensi teks dan analisis sosial.
C.     SYARAT-SYARAT KARYA SASTRA

Beberapa pendekatan yang umum digunakan dalam analisis wacana kritis, antara lain adalah :
1.      Pendekatan Linguistik Kritis (Critical Linguistic).
Pendekatan linguistik kritis menekankan analisis pada bahasa dalam kaitannya dengan ideologi. Dalam hal ini, ideologi telaah dari sudut pilihan kata lain, aspek ideologi iti diamati dengan melihat pilihan bahasa dan struktur tata bahasa yang dipakai.
2.      Pendekatan Perancis (French Discourse Analysis
Pendekatan Perancis berasumsi bahwa bahasa adalah medan pertarungan kekuasaan. Melaluki makna yang diciptakan dalam wacana, berbagai kelompok saling berupaya menanamkan keyakinannya dan pemahamannya kepada kelompok lain. Melalui kata dan makna yang diciptakan mereka melakukan pertarungan, termasuk kekuasaan untuk menentukan dan mengukuhkan posisi dominasi kuasa pada yang lain. Dalam pendekatan ini bahasa dan ideologi bertemu pada pemakaian bahasa dan materialisasi bahasa pada ideologo. Keduanya, kata yang digunakan dan maknanya memposisikan orang dalam kelas tertentu. Bahasa adalah pertarungan wacana melalui mana suatu kelompok sosial atau kelas sosial berusaha menanamkan keyakinan dan pemahamannya. Pendekatan inilah yang digunakan oleh Sara Mills dengan perspektif feminisme.
3.      Pendekatan Kognitis Sosial (Socio Cognitive Approach
Pendekatan ini dikembangkan oleh Teun Van Dijk yang menitikberatkan pada malah etnis, rasialisme dan pengungsi. Pendekatan ini disebut sebagai kognisi sosial, karena ia melihat faktor kognisi sebagai elemen penting dalam produksi wacana. Oleh karena itu, menurut pendekatan ini analisis wacana dapat digunakan untuk mengetahui posisi sosial kelompok-kelompok penguasa/dominan dan kelompok marjinal.
4.      Pendekatan Perubahan Sosial (Sociocultural Change Approach)
Pendekatan ini memusatkan perhatian pada bagaimana wacana dan perubahan sosial. Wacana di sini dipandang sebagai praktik sosial. Dengan demikian ada hubungan dialektis antara praktik diskursif tersebut dengan identitas dan relasi sosial. Wacana juga melekat dalam situasi, institusi dan kelas sosial tertentu. Pendekatan perubahan sosial memandang wacana sebagai praktik kekuasaan. Menurut pendekatan ini wacana mempunyai tiga efek dalam perubahan sosial, yaitu a) memberi andil dalam mengkonstruksikan identitas sosial dan posisi subjek, b) memberi konstribusi dalam mengkonstruksi relasi sosial, c) memberi kontribusi dalam mengkruksikan sistem pengetahuan dan kepercayaan.
5.      Pendekatan Wacana Sejarah (Discourse Historical Approaches)
Menurut pendekatan kesejarahan, analisis wacana harus memperhatikan konteks kesejarahan. Wacana disiji disebut historis karena menurut Wodak, analisis wacana harus menyertakan konteks sejarah bagaimana wacana tentang suatu kelompok atau komunitas digambarkan. Dalam paradigma kritis, media pandang sebagai dominan dapat mengontrol kelompok yang tidak dominan bahkan memarjinalisasi mereka dengan menguasai dan mengontrol media. Karena media dikuasai oleh kelompok yang dominan, realitas yang sebenarnya telah terdistorsi dan palsu.

E. Model Analisis Wacana Kritis
Adapun model-model yang digunakan dalam wacana kritis adalah sebagai berikut:
1.      AWK Norman Fairclough ( Dialectical-Relational Approach / DRA)
Norman Fairclough melihat pemakaian bahasa tutur dan tulisan sebagai praktik sosial. Praktik sosial dalam analisis wacana dipandang menyebabkan hubungan yang saling berkaitan antara struktur sosial dan proses produksi wacana. Dalam memahami wacana (naskah/teks) kita tak dapat melepaskan dari konteksnya. Untuk menemukan ”realitas” di balik teks diperlukan penelusuran atas konteks produksi teks, konsumsi teks, dan aspek sosial budaya yang mempengaruhi pembuatan teks. Fairclough (1989:22-23) berpendapat ada dialektik antara sosial dan wacana.Wacana mempengaruhi tatanan sosial, demikian juga tatanan sosial mempengaruhi wacana.Pertama, discourse membentuk dan dibentuk oleh masyarakat.Kedua, discourse membantu membentuk dan mengubah pengetahuan beserta objek-objeknya, hubungan sosial, dan identitas sosial.Ketiga, discourse dibentuk oleh hubungan kekuasaan dan terkait dengan ideologi.Keempat, pembentukan discourse menandai adanya tarik ulur kekuasaan. Dengan demikian, model analisis wacana yang dikembangkan oleh Fairclough disebut dengan Pendekatan Relasi Dialektik (Dialectical-Relational Approach / DRA) atau biasa  juga disebut dengan pendekatan perubahan sosial.
Konsep yang dibentuk oleh Fairclough (1989 dan 1995) menitikberatkan pada tiga level.Pertama, setiap teks secara bersamaan memiliki tiga fungsi, yaitu representasi, relasi, dan identitas.Kedua, praktik wacana meliputi cara-cara para pekerja media memproduksi teks. Hal ini berkaitan dengan wartawan itu sendiri selaku pribadi; sifat jaringan kerja wartawan dengan sesama pekerja media lainnya, pola kerja media sebagai institusi, seperti cara meliput berita, menulis berita, sampai menjadi berita di dalam media. Ketiga, praktik sosial-budaya menganalisis tiga hal yaitu ekonomi, politik (khususnya berkaitan dengan isu-isu kekuasaan dan ideologi) dan budaya (khususnya berkaitan dengan nilai dan identitas) yang juga mempengaruhi institusi media dan wacananya. Pembahasan praktik sosial budaya meliputi tiga level, yaitu: level situasional, institusional, dan sosial. Level situasional berkaitan dengan produksi dan konteks situasinya.Level institusional berkaitan dengan pengaruh institusi secara internal maupun eksternal.Level sosial berkaitan dengan situasi yang lebih makro, seperti sistem politik, sistem ekonomi, dan sistem budaya masyarakat secara keseluruhan.
2.      AWK Theo Van Leeuwen (Social Actors Approach/ SAA)
Theo van Leeuwen memperkenalkan model analisis wacana untuk mengetahui bagaimana sebuah kelompok dimunculkan atau disembunyikan. Analisis Van Leeuwen menampilkan bagaimana pihak-pihak dan aktor (Social  Actors) ditampilkan dalam pemberitaan. Bagaimana suatu kelompok dominan lebih memegang kendali, sementara kelompok lain yang posisinya rendah cenderung untuk terus-menerus dijadikan objek pemaknaan dan digambarkan secara buruk. Kelompok buruh, petani, nelayan, imigran gelap, dan wanita adalah kelompok yang bukan hanya tidak mempunyai kekuatan dan kekuasaan, namun juga dalam wacana pemberitaan sering digambarkan tidak berpendidikan, liar,mengganggu ketentraman, melakukan demonstrasi, dan sering bertindak anarkis.Seringkali kelompok terpinggirkan ini digambarkan secara buruk di media.Buruh yang berdemonstrasi sering ditindak dengan kekerasan, setelah terbentuk wacana bahwa demonstrasi dan pemogokan buruh itu banyak menimbulkan keonaran, kemacetan, dan kerusakan (Eriyanto, 2009: 171).
Penggambaran buruk dalam media kepada kelompok yang lebih lemah ini seringkali menjadikan kelompok ini sebagai kelompok yang salah dan pemilik modal menjadi pihak yang terlihat ‘dirugikan’.Media massa menggiring kelompok tertentu menjadi salah atau disalahkan.
Lewat pemberitaan yang terus-menerus disebarkan, media secara tidak langsung membentuk pemahaman dan kesadaran di kepala khalayak mengenai sesuatu. Wacana yang dibuat oleh media itu bisa jadi melegitimasi suatu hal atau kelompok dan mendelegitimasi dan memarjinalkan kelompok lain. Kita sering merasa ada ketidakadilan dalam berita mengenai pemerkosaan terhadap wanita, bagaimana pihak yang menjadi korban ini digambarkan secara buruk, sehingga khalayak lebih bersimpati kepada laki-laki yang menjadi pelaku.Van Leeuwen membuat suatu model analisis yang bisa dipakai untuk melihat bagaimana peristiwa dan aktor-aktor sosial tersebut ditampilkan dalam media dan bagaimana suatu kelompok yang tidak punya akses menjadi pihak yang secara terus menerus dimarjinalkan (Leeuwen, 2008:23-54).Analisis Van Leeuwen secara umum menampilkan bagaimana pihak-pihak dan aktor (bisa seseorang atau kelompok) ditampilkan dalam pemberitaan.Van Leeuwen fokus kepada dua hal.Pertama, proses pengeluaran (exclusion).Van Leeuwen (2008:28) berkata bahwa. Exclusionmenjadi bagian yang sangat penting dalam analisis wacana kritis.Eksklusi (exclusion) yaitu apakah dalam suatu teks berita ada kelompok atau aktor yang dikeluarkan dalam pemberitaan, yang dimaksudkan dengan pengeluaran seseorang atau aktor dalam pemberitaan adalah, menghilangkan atau menyamarkan pelaku/aktor dalam berita, sehingga dalam berita korbanlah yang menjadi perhatian berita.
Proses pengeluaran ini secara tidak langsung bisa mengubah pemahaman khalayak akan suatu isu dan melegitimasi posisi pemahaman tertentu. Kedua, proses pemasukan (inclusion). Proses ini adalah lawan dari proses exclusion, proses ini berhubungan dengan bagaimana seseorang atau kelompok aktor dalam suatu kejadian dimasukkan atau direpresentasikan ke dalam sebuah berita. Baik exclusion maupun inclusion merupakan strategi wacana. Van Leeuwen (2008:31) berkata bahwa eksklusi dan inklusi menjadi cara mempresentasikan aktor sosial di dalam wacana. Dengan menggunakan kata, kalimat, informasi atau susunan bentuk kalimat tertentu, cara bercerita tertentu, masing-masing kelompok direpresentasikan ke dalam sebuah teks. Secara lengkap Van Leeuwen (2008:31-54) mengurai untuk melihat eksklusi dan inklusi dalam wacana memperhatikan adanya: nominalisasi, pasivasi, alokasi, generiksasi dan spesifikasi, asimilasi, asosiasi dan diasossiasi, indeterminasi dan diferensiasi, nominasi dan kategorisasi, fungsionalisasi dan identifikasi, personalisasi dan impersonalisasi, serta overdeterminasi.
3.              AWK Teun A. Van Dijk (Socio-cognitive Approach / SCA)
Model van Dijk ini sering disebut sebagai ”kognisi sosial”. Menurutnya penelitian atas wacana tidak cukup hanya didasarkan pada analisis teks semata, karena teks hanyalah hasil dari suatu praktik produksi yang harus juga diamati.Dalam hal ini harus dilihat bagaimana suatu teks diproduksi, sehingga diperoleh suatu pengetahuan kenapa teks bisa semacam itu.Model van Dijk lebih menekankan pada kognisi sosial individu yang memproduksi teks tersebut. Wacana oleh van Dijk digambarkan mempunyai tiga dimensi yaitu teks, kognisi sosial, dan konteks sosial. Dijk menggabungkan tiga dimensi wacana tersebut ke dalam suatu kesatuan analisis.Dalam teks, yang diteliti adalah bagaimana struktur teks dan strategi wacana dipakai untuk menegaskan suatu tema tertentu. Kognisi sosial mempelajari proses induksi teks berita yang melibatkan kognisi individu dari wartawan. Aspek konteks sosial mempelajari bangunan wacana yang berkembang dalam masyarakat akan suatu masalah. Dalam kerangka analisis wacana kritis model Van Dijk, struktur wacana tersusun atas tiga bangunan struktur yang membentuk satu kesatuan. Masing-masing adalah struktur makro, super struktur, dan struktur mikro (macro structure, superstructure, and micro structure).Struktur makro menunjuk pada makna keseluruhan (global meaning) yang dapat dicermati dari tema atau topik yang diangkat oleh suatu wacana.Super-struktur menunjuk pada kerangka suatu wacana atau skematika, seperti kelaziman percakapan atau tulisan yang dimulai dari pendahuluan, dilanjutkan dengan isi pokok, diikuti oleh kesimpulan, dan diakhiri dengan penutup.
Dalam tulisannya berjudul Structures of news in the press,Van Dijk (1985) menyimpulkan bahwa bangunan wacana harus mempertimbangkan aspek makna global (global meaning) yang ditunjukkan lewat analisis struktur makro dan super struktur yang posisinya jauh di atas analisis kata dan kalimat, meskipun analisis struktur mikro juga patut diperhitungkan. Selain struktur makro dan super struktur di atas, Van Dijk juga melihat struktur mikro ketika melihat wacana.Struktur mikro menunjuk pada makna setempat (local meaning) suatu wacana dapat digali dari aspek semantik, sintaksis, stilistika, dan retorika.Aspek semantik suatu wacana mencakup latar, rincian, maksud praanggapan, serta nominalisasi.
Aspek sintaksis suatu wacana berkenaan dengan bagaimana frasa dan atau kalimat disusun untuk dikemukakan.Ini mencakup bentuk kalimat, koherensi, serta pemilihan sejumlah kata ganti. Aspek stilistika suatu wacana berkenaan dengan pilihan kata dan lagak gaya yang digunakan oleh pelaku wacana. Dalam kaitan pemilihan kata ganti yang digunakan dalam suatu kalimat, aspek leksikon ini berkaitan erat dengan aspek sintaksis. Aspek retorika suatu wacana menunjuk pada siasat dan cara yang digunakan oleh pelaku wacana untuk memberikan penekanan pada unsur-unsur yang ingin ditonjolkan. Ini mencakup penampilan grafis, bentuk tulisan, metafora, serta ekspresi yang digunakan.Dengan menganalisis keseluruhan komponen struktural wacana, dapat diungkap kognisi sosial pembuat wacana. Secara teori, pernyataan ini didasarkan pada penalaran bahwa cara memandang terhadap suatu kenyataan akan menentukan corak dan struktur wacana yang dihasilkan.
4.              AWK Ruth Wodak (Discourse-Historical Approaches/ DHA)
Wodak dan Martin Reisigl (2001) dengan dipengaruhi oleh pemikiran dari sekolah Frankfurt, khususnya Jurgen Habermas, mengembangkan analisis dengan melihat faktor historis dalam suatu wacana. Penelitiannya terutama ditujukan untuk meneliti seksisme, antisemit, dan rasialisme dalam media dan masyarakat.Analisis wacana yang dikembangkan disebut wacana historis karena menurut mereka, analisis wacana harus menyertakan konteks sejarah bagaimana wacana suatu kelompok atau komunitas digambarkan.
Dalam artikel berjudul “The Discourse-Historical Approach”, dimuat di Wodak and Meyer (2001:63-94), Wodak memaparkan prosedur analisisnya. Rumusan prosedur analisis wacana kritis model Wodak (DHA) dilakukan secara tiga dimensi: setelah (1) menentukan konten atau topik yang spesifik dari sebuah wacana yang spesifik, (2) menelaah/menginvestigasi strategi-strategi diskursif (termasuk strategi argumentasi). Lalu (3), menganalisis realisasi makna-makna kebahasaan yang tertulis dan spesifik, juga makna-makna kebahasaan dalam konteks tertentu. Wodak (dalam Wodak and Meyer, 2001: 72-73) mengajukan beberapa elemen dan strategi diskursif yang harus mendapatkan perhatian, yang dirangkum menjadi lima (5) pertanyaan, yaitu:
1.              Bagaimana nama orang dan secara linguistik mengacu kepada siapa?
2.                 Apa sifat, karakter, kualitas, dan bentuk penggambaran kepada mereka?
3.              Dengan argumen dan argumentasi seperti apa orang atau sekelompok orang digambarkan secara eksklusi dan inklusi?
4.              Dari perspektif mana pelabelan, penggambaran, dan argumentasi disampaikan?
5.              Apakah pengungkapan disampaikan secara jelas, apakah diintensifkan, atau apakah malah dikurangi?
Dari pertanyaan-pertanyaan di atas, Wodak tertarik dengan 5 tipe/jenis strategi diskursif, yang semuanya masuk ke dalam menghadirkan citra diri sendiri yang positif dan orang lain yang negatif. Konstruksi diskursif dari “SAYA” dan “MEREKA” adalah landasan dasar wacana identitas dan perbedaan.“Strategi” tersebut digunakan untuk meraih tujuan wacana bidang sosial, politik, psikologi, atau kebahasaan. Ketika strategi diskursif tersebut disampaikan dengan penggunaan bahasa, Wodak memetakannya ke dalam level organisasi linguistik dan kompleksitas yang berbeda. Wodak (dalam Wodak and Meyer, 2001: 69) menyebutkan analisis linguistik yang harus dilakukan dalam analisis wacana yang dikembangkannya meliputi 4 area; perspektivasi, strategi representasi diri, strategi argumentasi, dan strategi mitigasi. Dengan demikian akan diketahui pengembangan wacana yang dilakukan dalam bidang seksisme, antisemit, ataupun rasisme.
6.              AWK Sara Mills (Feminist Stylistics Approach/ FSA)
Model analisis wacana Mills menekankan pada bagaimana wanita ditampilkan dalam teks.Mills melihat bahwa selama ini wanita selalu dimarjinalkan dalam teks dan selalu berada dalam posisi yang salah.Pada teks, mereka tidak diberikan kesempatan untuk membela diri.Oleh karena itu, model wacana ini sering disebut sebagai analisis wacana perspektif feminis.Sara Mill menyebut analisisnya dengan Feminist Stylistics.Sara Mills (1995:13) mengatakan Feminist Stylisticsbertujuan untuk membuat asumsi yang ada dalam stilistika konvensional menjadi lebih jelas, dengan tidak hanya menambahkan topik Gender ke daftar elemen yang dianalisa, namun menggunakan stilistika menjadi sebuah fase baru dalam analisis wacana. Hal ini bertujuan untuk memaksimalkan stilistika dalam analisis bahasa, tidak lagi bahwa bahasa itu sekedar ada, atau memang harus ada dan dimunculkan. Sara Mills mengembangkan analisis untuk melihat bagaimana posisi-posisi aktor ditampilkan dalam teks. Dalam arti siapa yang menjadi subjek penceritaan dan siapa yang menjadi objek penceritaan. Dengan demikian akan didapatkan bagaimana struktur teks dan bagaimana makna diperlakukan dalam teks secara keseluruhan.
Sara Mills juga melihat bagaimana pembaca dan penulis diperlakukan dalam teks. Bagaimana pembaca mengidentifikasi dan menempatkan dirinya dalam penceritaan teks. Posisi semacam ini akan menempatkan pembaca pada salah satu posisi dan mempengaruhi bagaimana teks itu ditampilkan. Pada akhirnya cara penceritaan dan posisi-posisi yang ditempatkan dan ditampilkan dalam teks ini membuat satu pihak menjadi terlegitimasi dan pihak lain menjadi tak terlegitimasi. Menurut Sara Mills konsep posisi pembaca yang ditempatkan dalam berita dibentuk oleh penulis tidak secara langsung, namun sebaliknya. Ini terjadi melalui penyapaan dalam dua cara. Pertama, suatu teks memunculkan wacana secara bertingkat dengan mengetengahkan kebenaran secara hirarkis dan sistematis, sehingga pembaca mengidentifikasikan dirinya dengan karakter atau apa yang terjadi di dalam teks (Eriyanto, 2001).  Kedua, kode budaya.Ini mengacu pada kode atau nilai budaya yang berlaku di benak pembaca ketika menafsirkan suatu teks.

F.      Penutup
Dari beberapa penjelasan diatas  disimpulkan bahwa Analisis Wacana dalam studi linguistik merupakan reaksi dari bentuk linguistik formal (yang lebih memperhatikan pada unit kata, frase, atau kalimat semata tanpa melihat keterkaitan di antara unsur tersebut). Analisis wacana adalah kebalikan dari linguistik formal, karena memusatkan perhatian pada level di atas kalimat, seperti hubungan gramatikal yang terbentuk pada level yang lebih besar dari kalimat. Analisis wacana dalam lapangan psikologi sosial diartikan sebagai pembicaraan. Wacana yang dimaksud di sini agak mirip dengan struktur dan bentuk wawancara dan praktik dari pemakainya. Sementara dalam lapangan politik, analisis wacana adalah praktik pemakaian bahasa, terutama politik bahasa. Karena bahasa adalah aspek sentral dari penggambaran suatu subyek, dan lewat bahasa ideologi terserap di dalamnya, maka aspek inilah yang dipelajari dalam analisis wacana.  

Sumber :
Brown dan Yule. 1996. Analisis Wacana. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.
Eritanto.2001.AnalisisWacana:PengantarAnalisisTeksMedia.Yogyakarta:LKiS.
Tarigan, H.G. 1987. Pengajaran Analisis Wacana. Bandung: Angkasa.
Sobur, Alex. 2006. Analisis Teks Media. cet. ke-4. Jakarta: Remaja Rosdakarya.

HAKIKAT ANALISIS WACANA



Resum Wacana Bahasa Indonesia
HAKIKAT ANALISIS WACANA
   Oleh : Ratna Agustin
A.      Pendahuluan
Pada pembahasan sebelumnya kita telas membahas hakikat wacana, prasyarat wacana, dan teks, koteks dan konteks, toeri tindak tutur, sosioinguistik interaksional, piranti kohesi dan koherensi, praanggapan, implikatur dan infereksi dieksis, wacana lisan dan non lisan, monoloh, dialog, pilolog, wacana deskripsi, eksposisi, argumentasi, persuasi dan narasi.. Kali ini kita membahasa mengenai hakikat analisis wacana.
Wacana dalam kegiatan berbahasa digunakan dalam berbagai dimensi keilmuan. Setiap disiplin linguistik yang berbeda akan memanfaatkan wacana dalam mendeskripsikan kegiatan-kegiatan linguistiknya dengan memfokuskan perhatiannya pada segi-segi wacana yang berbeda. Kajian sosiolinguistik menggunakan wacana untuk membedah struktur interaksi sosial yang tertuang dalam tindak tutur atau percakapan dan deskripsinya ditekankan pada ciri-ciri konteks sosial. Sementara, kajian psikolinguistik memanfaatkan wacana untuk mendeskripsikan pemahaman bahasa yang terjadi secara psikologi eksperimental. Proses pemerolehan dan memproduksi bahasa secara mental dipahami dengan mengkaji wacana baik secara tertulis maupun lisan.
B.     KONSEP ANALISIS WACANA
Schriffin menjabarkan empat asumsi analisis wacana, yaitu tersebut adalah Bahasa selalu terjadi dalam konteks, Bahasa dipengaruhi oleh konteks, Bahasa selalu bersifat komunikatiif, dan Bahasa dirancang untuk komunikasi.
1)      Bahasa selalu terjadi dalam konteks
Asumsi yang pertama adalah bahasa selalu terjadi di dalam konteks. Hal ini dibuktikan oleh banyak penelitian sosiolinguistik dan psikolinguistik yang mengatakan bahwa bahasa diproduksi dan ditafsirkan dalam berbagai konteks tertentu. Hal ini send dengan yang disampaikan oleh Halliday dan Hassan yang mengatakan bahwa “Context is something that accompanying text”. Kehadiran sebuah teks atau bahasa harus selalu disertai dengan konteks dimana bahasa itu digunakan. Oleh karena itu, dalam analisis wacana, bahasa yang ditelaah dalam sebuah wacana harus dikaitkan dengan konteks penggunaanya. Pemahaman yang tepat akan sebuah wacana hanya akan didapat dengan memberikan konteks yang sesuai.
Kleden dalam Sudaryat mendefinisikan konteks sebagai ruang dan waktu spesifik yang dihadapi oleh seseorang atau sekelompok orang. Konteks dapat juga diartikan sebagai seting atau latar yang menjabarkan suatu keadaan, tempat, dan waktu dimana dan kapan sebuah bahasa digunakan. Schriffin membedakan konteks menjadi tiga, yaitu konteks budaya, konteks sosial, dan konteks kognitif. Konteks budaya berhubungan dengan makna bersama dan pandangan dunia (paradigma). Konteks sosial berhubungan dengan definisi diri dan situasi yang dikonstruksikan. Sementara konteks kognitif berhubungan dengan mengaitkan pengalaman masa lalu dan pengetahuan. Pemahaman tentang bagaimana bahasa digunakan dan dibangun bergantung kepada pertimbangan bagaimana bahasa itu dikaitkan di dalam berbagai konteks.
Berdasarkan teori di atas, dapat disimpulkan bahwa bahasa selalu terjadi di dalam konteks. Dalam kaitannya dengan analisis wacana, setiap satuan bahasa yang menjadi bahan kajian dalam analisis wacana harus selalu dikaitkan dengan konteks. Penggunaan konteks yang tepat akan mempengaruhi pemahaman seseorang tentang sebuah bahasa atau wacana. Konteks dapat dibedakan menjadi tiga jenis yaitu konteks budaya, sosial, dan kognitif.
2. Bahasa dipengaruhi oleh konteks (context sensitive)
Selain selalu terjadi di dalam konteks, bahasa baik dari segi bentuk dan fungsi sangat dipengaruhi oleh karakteristiks konteks-konteks yang disebutkan di bagian sebelumnya. Banyak hasil penelitian yang menunjukkan hubungan antara bahasa dan konteks yang masuk ke dalam semua tingkatan bahasa baik struktur luar ataupun struktur dalam (surface structure dan deep structure). Istilah struktur luar dan struktur dalam itu sendiri pertama kali dikemukakan oleh Chomsky pada tahun 1957 dalam konsep transformasi generatif yang menjelaskan proses tranformasi bahasa dari  pemahaman atau kemampuan seorang penutur tentang kaidah-kidah suatu bahasa (kompetensi) kepada penerapan kaidah-kaidah bahasa tersebut di dalam proses berkomunikasi (performansi).
Teori ini diperkuat oleh Mulyana yang mengatakan bahwa konteks merupakan sebab dan alasan terjadinya suatu pembicaraan/ dialog. Semua hal yang berhubungan dengan tuturan, baik arti, maksud, maupun informasinya sangat bergantung kepada konteks yang melatar belakangi peristiwa tuturan tersebut. Contoh pengaruh konteks dalam bahasa dapat terlihat dari ilustrais di bawah ini :
Situasi 1
Seorang perempuan yang sedang menunggu kedatangan teman yang datang lebih awal dari waktu yang dijanjikan “cepat sekali kamu sampai”.
Situasi 2
Seorang perempuan yang sedang menunggu kedatangan teman yang terlambat dari waktu yang dijanjikan “cepat sekali kamu sampai”.
Kalimat “cepat sekali kamu sampai” pada dua situasi di atas memiliki bentuk dan struktur yang sama namun memiliki makna yang berbeda. Pada situasi yang pertama, kalimat “cepat sekali kamu sampai” menyatakan makna yang sebenarnya yaitu keheranan penutur akan kedatangan temannya yang lebih cepat dari waktu yang dijanjikan. Sedangkan kalimat “cepat sekali kamu sampai" pada situasi kedua menyatakan sndiran penutur terhadap temannya. Interpretasi makna yang berbeda dari kalimat tersebut disbabkan oleh adanya perbedaan konteks bahasa yang digunakan.
Berdasarkan teori di atas, dapat disimpulkan bahwa bahasa selalu dipengaruhi oleh konteks. Semua hal yang berkaitan dengan bahasa baik bentuk, struktur, makna, dan fungsi sangat bergantung kepada konteks yang melatar belakangi proses bahasa tersebut diproduksi dan diinterpretasikan. Penggunaan konteks yang berbeda akan memberikan interpretasi makna yang berbeda dari bahasa yang sama.
3. Bahasa selalu bersifat komunikatif
Bahasa selalu bersifat komunikatif karena bahasa selalu ditujukan kepada penerima pesan. Penerima pesan dapat berupa penerimaan yang nyata (actual) dan yang dimaksudkan (intended). Beberapa ahli berpendapat bahwa komunikasi hanya dapat terjadi sesuai kehendak pembicara. Ekman dan Freisen (1969) membedakan pesan menjadi dua, informatif dan komunikatif. Pesan informatif adalah pesan yang berisi informasi faktual yang dikirim kepada penerima. Sementara pesan komunikatif adalah pesan yang tidak harus informatif namun memiliki sifat interaktif yaitu pesan yang mengubah sikap seseorang meskipun tidak mendapat interpretasi yang sama dan juga tidak secara sadar ditujukan oleh penutur pesan.
Hal ini senada dengan yang disampaikan oleh Brown dan Yule yang mengatakan bahwa bahasa memiliki dua fungsi yaitu transaksional dan interaksional. Secara transaksional, fungsi bahasa mengungkapkan isi yang berupa informasi faktual yang memuat pesan dari pembicara kepada pendengar. Sementara, fungsi interaksional pada pengungkapan hubungan-hubungan sosial dan sikap-sikap pribadi yang berguna untuk memelihara dan menjaga hubungan-hubungan sosial.
Dari fungsi bahasa di atas, wacana dapat dipandang secara luas, karena tidak hanya memuat informasi faktual, tetapi juga hubungan sosial yang menjadi konteks terjadinya wacana. Upaya untuk memahami wacana secara luas inilah dilakukan dalam bentuk analisis wacana. Wacana dan analisis wacana merupakan dua hal yang saling bersinergi, jika wacana pada tataran bentuk linguistinya, maka analisis wacana lebih luas memandang wacana dari sisi konteksnya. Nunan (2003) menjelaskan “the study of discourse is the study of the relationship between language and its contexts of use”. Dalam pemahaman yang lebih luas, Cook  menjelaskan analisis wacana menguji bagaimana rangkaian bahasa yang dimaknai dalam konteks tekstual yang sempurna, konteks sosial, dan psikologis menjadi satu kesatuan yang bermakna dalam penggunaannya.
Mc.Kay (1972) membagi komunikasi menjadi dua yaitu komunikasi yang mengarah kepada tujuan ( goal-directed ) yaitu komunikasi yang perlu memiliki tujuan dan diinterpretasikan atau komunikasi terpimpin ( conduct ) yaitu komunikasi yang tidak memiliki tujuan dan tidak diinterpretasikan. Hal senada juga disampaikan oleh Grice (1957) yang dikenal dengan konsep -nn. -nn merupakan singkatan dari non-natural meaning (makna yang tidak alami) yaitu situasi dimana pembicara mengharapkan makna tetapi mendapat respon dan interpretasi sesuai yang disadari oleh penerima. Pandangan yang lebih luas tentang komunikasi  disampaikan oleh Ruesch dan Bateson (1951) dan Watzlawick, Beavin, dan Jackson (1967) bahwa apapun yang terjadi pada kehadiran pengirim dan penerima bersifat komunikatif; selama pesan yang disampaikan dapat tersedia untuk orang lain dalam domain yang sama, tidak perlu diharapkan sebagai pesan untuk dapat dinilai sebagai komunikasi. Goffman (1959) membedakan informasi yang sebenarnya dan tidak sebenarnya. Informasi yang sebenarnya adalah komunikasi yang sesuai dengan makna (diharapkan dan diterima), sementara informasi yang tidak sebenarnya adalah informasi yang diinterpretasikan maknanya dan dicari artinya.
Berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimulan bahwa bahasa selalu bersifat komunikatif. Hal ini didasarkan bahwa bahasa selalu ditujukan kepada penerima pesan. Terdapat dua macam pesan yang disampaikan dalam bahasa yaitu informatif dan komunikatif. pesan informatif adalah pesan yang menyampaikan informasi faktual sedangkan pesan komunikatif adalah pesan yang akan membangun interaksi antara penutur dan penerima pesan. Hal ini sesuai dengan dua fungsi bahasa yaitu fungsi transaksional dan interpersonal. Fungsi transaktional adalah fungsi bahasa yang terkait dengan pesan informatif dan fungsi interaksional adalah fungsi bahasa yang berkaitan dengan fungsi komunikatif.
4. Bahasa dirancang untuk komunikasi
Asumsi yang keempat adalah bahasa dirancang untuk mencerminkan dasar komunikasinya. Hal ini didasarkan pada fitur bahasa yang dibahas oleh Hocket (1958) yang menyatakan bahwa bahasa dapat digunakan sebagai sistem komunikasi dan dapat memudahkan seseorang dalam memahami sesuatu hal. Bahasa merupakan alat komunikasi yang utama bagi manusia.  Bahasa digunakan untuk menyampaikan semua perasaan, pikiran, dan pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang kepada orang lain.
Penelitian-penelitian terdahulu membuktikan bahwa proses komunikatif dapat memunculkan dan mengembangkan struktur sintaksis. Penelitian sosilonguistik juga membuktikan bahwa komunikasi pada grup-grup tertentu dapat mempengaruhi perubahan sistem bunyi suatu bahasa. Selain itu, terdapat beberapa fitur bahasa yang dirancang untuk memudahkan proses komunikasi. Beberapa fitur bahasa yang digunakan untuk mempermudah komunikasi adalah redundansi, pilihan istilah referensi, dan penyusunan informasi dalam kalimat. Salah satu fitur bahasa yang dirancang untuk mempermudah komunikasi adalah pengulangan kata (redundansi). Zaimar dan Harahap menyebutkan bahwa redundansi dapat terjadi dalam beberapa bentuk yaitu pengulangan makna dalam kosakata, sintaks, mimik, dan gerakan tubuh. Tujuan digunakannya redundansi dalam komunikasi adalah untuk memberikan penekanan atau memastikan pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik.
Berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimulan bahwa bahasa dirancang untuk komunikasi. Bahasa dignaran untuk mempermudah proses penyampaian pesan.
Beberapa fitur bahasa yang dapa digunakan untuk mempermudah proses komunikasi adalah redundansi, pilihan istilah referensi, dan penyusunan informasi dalam kalimat.
C.       PROPERTI WACANA
Pada dasarnya ada beberapa sudut pandang yang berbeda terhadap wacana, yaitu berdasarkan pandangan formal, fungsional, dan dialektis. Wacana berdasarkan pandangan structural dipandang sebagai satuan bahasa di atas kalimat. Bahasa pada tataran ini sebagai organisasi bahasa yang terbentuk dari unsur-unsur yang lebih kecil pada tataran klausa dan kalimat. Pandangan fungsional (makna) memandang wacana sebagai bahasa dalam penggunaannya, dalam hal ini wacana dipandang sebagai alat komunikasi.Pandangan yang terakhir yaitu pandangan dialektis (Action) memandang wacana sebagai ujaran, yakni wacana dipahami sebagai sebagai suatu kumpulan unit struktur bahasa yang tidak lepas dari konteks. Maka keberadaan kalimat dalam suatu wacana tidak dipandang sebagai suatu sistem (langue/ produk sosial yang masih tersimpan dalam pikiran manusia) tetapi juga dipandang sebagai (parole/ ujaran yang diproduksi oleh penutur).
Berdasarkan sudut pandang terhadap wacana tersebut kemudian lahir analisis wacana struktural, fungsional (makna), dan dialektis (action). Cara pandang yang berbeda membuat focus analisis ketiga analisis wacana tersebut juga berbeda. Analisis wacana struktural memfokuskan kajiannya pada unit kata, frase, atau kalimat yang membentuk sebuah wacana.Analisis wacana fungsional memfokuskan analisisnya pada penggunaan bahasa senyatanya sebagai alat komunikasi.Terakhir, analisis wacana dialektis yang focus kajiannya pada struktur bahasa dan konteks.
Ketiga analisis wacana tersebut memiliki piranti analisis yang berbeda sesuai dengan fokus kajiannya masing-masing. Untuk mengetahui piranti-piranti apa saja yang dianalisis dalam ketiga analisis wacana tersebut dalam makalah ini akan mencoba menguraikannya. Dengan memiliki pengetahuan dan pemahaman akan piranti-piranti analisis yang terdapat dalam ketiga analisis wacana tersebut pembaca dapat semakin memahami piranti-piranti apa yang perlu dianalisis dalam ketiga analisis wacana tersebut. Selain itu juga dapat memberikan pemahaman akan perbedaaan ketiga analisis wacana tersebut.
Sebagai mana Deborah mengatakan bahwa piranti – piranti  wacana terdiri dari struktur, pemaknaan, dan tindakan.[18] Ini akan menjadi jelas bahwa piranti ini mengandung  aspek yang sedikit berbeda dengan  piranti yang lain. Dua piranti wacana pertama sebagian besar berkaitan dengan wacana yang sebagian urutannya panang, proposisi, ucapan-ucapan. Jenis wacana ketiga adalah lebih menekankan pada aspek bahasa seperti yang digunakan dalam interaksi sosial, termasuk sebagai pembicara menggunakan tidak hanya dari urutan yang lebih panjang, namun penggunaan satu unit. Contoh ucapan. Dalam interaksi sosial. Dengan memeriksa hubungan antara jenis-jenis wacana.
1.      a) Piranti Analisis Wacana Struktural
Van Dijk (1972), mengklaim bahwa teks merupkan perluasan dari kalimat dan tata bahasa pada teks dapat ditulis pada bentuk yang sama sebagai kalimat tata bahasa generatif. Dalam teks seperti tata bahasa.suatu  wacana akan ditentukan oleh seperangkat aturan dengan kriteria formal untuk interpretability kalimat dalam teks, Beberapa penelitian mengambil pendekatan yang lebih liberal faktor non-tekstual dalam hasil penelitian mereka yang merupakan wacana struktur . mencerminkan isi informasi dan struktur apa yang sedang dibicarakan
Selain itu pandangan struktural juga memandang wacana sebagai sebuah satuan bahasa yang lengkap, terbesar, dan tertinggi yang berada di atas kalimat. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pengertian wacana dalam konteks ini mengacu pada sebuah paragraf yang lengkap.Sebagai sebuah paragraf yang dianggap wacana tentu saja paragraf itu memiliki sebuah ide pokok (main ide) dan ide pendukung (supporting idea).Keduanya berkolaborasi merangkai pesan. Dengan cara demikian, pesan yang disampaikan dalam sebuah wacana terkemas dengan baik sehingga mudah dipahami dan pandangan ini dipahami sebagai lebih mengarah pada pandangan formal.
Pandangan formal tersebut kemudian melahirkan analisis wacana struktural.Analisis wacana ini seluruhnya terfokus pada unit kata, frase, atau kalimat yang membentuk sebuah wacana. Berikut akan dipaparkan secara rinci piranti analisis wacana struktural tersebut.
1)      Topik
Topik berarti ―pokok pembicaran, pokok permasalahan, atau masalah yang dibicarakan Finoza Istilah topik juga dapat didefinisikan ke dalam beberapa pengertian yang bebeda yaitu(1) frasa dalam satu klausa yang terpahami, (2) frasa dalam satu wacana yang terpahami, (3) memiliki posisi khusus dalam satu wacana.
Topik merupakan bagian yang sangat penting dalam sebuah wacana.Dikatakan demikian karena topik memuat bagian inti atau perihal yang dibicarakan dalam sebuah wacana.Topik menunjukkan informasi paling penting atau inti pesan yang ingin disampaikan oleh penulis.Secara keseluruhan sebuah wacana memiliki sebuah topic
2) Tuturan Pengungkap Topik
Tuturan pengungkap topik menurut Gillian Brown dan George Yule disebut kerangka topik . Ujaran-ujaran tersebut memiliki arah untuk menuju bagaimana sebuah topik bisa diungkap.Topik itu bisa diungkap berdasarkan unsur-unsur kerangka topik.Unsur –unsur tersebut adalah orang, tempat, wujud, peistiwa, fakta.Dengan unsur-unsur tersebut sebuah topik wacana dapat diungkap.
Seperti yang sudah dipaparkan sebelumnya bahwa tuturan pengungkap topik adalah ujaran-ujaran yang dapat mengarahkan kita pada pengungkapan topik dalam sebuah wacana.dengan kata lain tutran pengembang topik tersebut berpusat pada topik untuk menciptakan kesatuan gagasan dalam sebuah wacana. Adanya tuturan pengungkap topikyang menyeleweng dari topik hendaknya dihindari.Untuk itu langkah yang harus ditempuh ialah perumusan butir-butir pengembangan secara ringkas di bawah topik, sehingga terbentuk wacana yang apik. Gagasan yang terkandung dalam tuturan pengungkap topik pada dasarnya merupakan pengungkapan dari :
1) Apa yang akan dibicarakan‖ dengan mengajukan pernyataan sehubungan dengan ‗apa yang dibicarakan‘.
2) Jawaban ringkas yang dapat dijadikan butir-butir pengembanganya. Adapun pertanyaan yang dapat diajukan itu ialah mengenai ‗bagaimana‘. ‗mengapa‘, dan pertanyaan lain yang relevan.
3) Langkah selanjutnya adalah mengecek apkah butir-butir itu sudah lengkap ataukah masih ada yang terlewatkan, dan kemudian menyusun kembali butir-butir itu dalam susunan yang dipandang paling tepat.
3) Kohesi dan Koherensi
Piranti analisis wacana structural yang ketiga adalah kohesi dan koherensi. Kohesi dan koherensi merupakan salah satu unsur pembentuk wacana yang sangat penting. Menurut Rani dkk Aspek kohesi akan merangkai hubungan anatarbagian dalam wacana yang ditandai dengan penggunaan bahasa, sedangkan aspek koherensi merupakan kepaduan hubungan maknawi antara bagian-bagian dalam wacana.Untuk memberikan pemahaman kepada pembaca, berikut disajikan pemaparan mengenai kedua aspek tersebut.
2.      Piranti Analisis Wacana Fungsional (Meaning)
Halliday dan hasan berpendapat misalnya, bahwa meskipun struktur mungkin menjadi salah satu sumber definisi teks sumber bahwa genre tertentu dari teks berbagi dengan kalimat sumber yang lebih menarik adalah pada tingkat hubungan semantik yang mendasari teks. Dengan demikian, barang-barang tertentu seperti kami ganti, kata keterangan, dan konjungsi membantu menciptakan wacana bukan karena aturan diatur distribusi mereka, tetapi karena mereka menunjukkan link penafsiran antara dua bagian dalam teks. Dan meskipun kita dapat mengenali elemen kohesif dengan penampilan permukaannya dalam huruf a, apa elemen seperti itu benar-benar menampilkan hubungan antara isi proposisional mendasari dua klausa penyebab di mana unsur muncul dan klausa sebelumnya. Singkatnya, link kohesif didirikan karena interpretasi elemen dalam satu klausul mengandaikan informasi dari klausa sebelumnya.
Analisis wacana fungsional lahir dari pendekatan fungsional.Pendekatan fungsional merupakan sebuah pendekatan yang memandang bahasa sebagai sistem terbuka.Artinya, bahasa mempunyai sistem yang dapat berubah; sifat bahasa heterogen, yaitu bervariasi, berbeda penggunaannya bergantung konteksnya, seperti penutur dan lawan tutur, tujuan, tempat, dan waktunya; fokus deskripsi pada fungsi bahasa, yaitu maksud dan tujuan penggunaan bahasa sebagai alat komunikasi.
Analisis wacana yang didasarkan pada pandangan fungsional ini difokuskan pada terhadap penggunaan bahasa berupa tuturan dalam penggunaan bahasa secara alami dalam proses komunikasi. Dalam hal ini, piranti analisis wacana berdasarkan pandangan ini yaitu (1) Tuturan pengungkap maksud, (2) Maksud/ fungsi tuturan(tindak tutur), (3) strategi penyampaian tindak tutur, (4) prinsip penggunaan bahasa (5) Komponen Percakapan.
a)      Tututuran Pengungkap Maksud
Seperti yang sudah diungkap sebelumnya bahwa analisis wacana fungsional lahir dari pendekatan fungsional yang bersifat terbuka dan analisisnya difokuskan pada penggunaan bahasa secara alami dalam proses komunikasi. Proses komunikasi dapat kita pahami sebagai proses penyampaian pesan dari penutur kepada mitra tutur. Sehingga secara tidak langsung dapat dikatakan bahwa tuturan – tuturan dalam proses komunikasi merupakan sebuah sarana pengungkap maksud yang ingin disampaikan oleh penutur kepada mitra tutur dalam proses komunikasi.
Dalam analisis wacana fungsional tuturan – tuturan yang mengungkap maksud tersebutlah yang dianalisis. Misalnya apabila seseorang ingin mengemukakan sesuatu kepada orang lain, maka apa yang ingin dikemukakannya itu adalah makna atau maksud kalimat.
Untuk menyampaikan makna atau maksudnya itu, penutur harus menuangkannya dalam wujud tindak tutur. Tindak tutur yang dipilih tersebut sangat bergantung pada beberapa faktor, antara lain: dengan bahasa apa ia harus bertutur, kepada siapa ia akan menyampaikan ujaranya, dalam situasi bagaimana ujaran itu disampaikan, dan kemungkinan-kemungkinan struktur manakah yang ada dalam bahasa yang dipergunakannya.
b)      Maksud/ Fungsi Tuturan (Tindak Tutur)
Setiap tuturan yang hadir dalam proses komunikasi bukan sekedar lambang, kata, atau kalimat, tetapi akan lebih tepat apabila disebut produk atau hasil dari lambang, kata, atau kalimat yang berwujud perilaku tindak tutur. Setiap tuturan (tindak tutur) tersebut memiliki fungsi yang berbeda-beda dalam penggunaannya.Fungsi tersebut tampak jelas dari maksud yang disampaikan penutur melalui tuturannya.Untuk menganalisis maksud/ fungsi tuturan (tindak tutur) tersebut perlu dipahami beberapa fungsi tuturan (tindak tutur) yang ada.Berikut diuraikan beberapa fungsi tuturan (tindak tutur) tersebut.
2)      Strategi Penyampaian Tuturan
Putu Wijana&M. Rohmaji menjelaskan, berdasarkan strategi penyampaiannya, jenis tindak tutur dapat dibagi menjadi.empat bagian. Yaitu:
1.      Tindak Tutur Langsung
Tindak tutur langsung terbentuk bila kalimat difungsikan secara konvensional. Misalnya kalimat berita difungsikan secara konvensional untuk menyatakan sesuatu, kalimat tanya untuk bertanya, dan kalimat perintah untuk menyuruh, mengajak, memohon dan sebagainya.
Contoh.
(1)   Mia makan roti
Tuturan di atas menggambarkan penyampaiannya di lakukan secara langsung dari sang penutur kepada lawan tuturnya.Tuturan di atas menggambarkan kalimat berita yang secara langsung menyampaikan bahwa Mia sedang makan roti.
c. Tindak Tutur Tidak langsung
Tuturan yang diutarakan secara tidak langsung biasanya tidak dapat dijawabsecara langsung, tetapi harus segera melaksanakan maksud yang terimplikasi dari tuturan tersebut. Berbanding terbalik dengan tuturan langsung yang dijelaskan di atas, tuturan tidak langsung biasanya tersampaikan secara lebih sopan. Misalnya kalimat perintah dapat diutarakan dengan menggunakan kalimat berita atau kalimat tanya agar orang yang diperintah tidak merasa diperintah. Bila hal ini yang terjadi, maka tindak tutur yang terbentuk adalah tindak tutur tidak langsung (indirect speech act).
Contoh.
(1)   Kamu sudah makan siang?
Tuturan (1) bila diucapkan kepada seseorang sebenarnya bukan sekedar bertanya apakah lawan tutur memiliki sudah makan, tetpi lebih dimaksudkan untuk mengajak lawan tutur untuk makan siang bersama.
(2)   Tindak tutur literal
Tindak tutur literal (literal speech act) adalah tindak tutur yang memiliki maksud sama dengan makna kata-kata yang menyusunnya.
Contoh.
Masakanmu sangat enak
Tuturan di atas benar-benar bermaksud memuji bahwa masakan yang ia cicipi benar-benar enak.
(3)   Tindak tutur tidak litera
Tindak tutur tidak literal (nonliteral peech act) adalah tindak tutur yang maksudnya tidak sama atau berlawanan dengan makna kata-kata yang menyusunnya.
Contoh.
(1)    Masakanmu sangat enak, tapi lebih baik kamu jangan menjadi koki.
Tuturan (1) menggambarkan sang penutur mengatakan masakan lawan tuturnya tidak enak sehingga lebih baik tidak usah menjadi koki , walaupun diawali dengan kalimat memuji.
Piranti Analisis Wacana Dialektis (Action)
Menurut Deborah dalam bukunya dikatakan bahwa Struktur dan makna merupakan piranti analisis wacana yang mempertimbangkan pada segi linieritas dari bagian contohnya adalah kalimat,teks kata depan.. Meskipun tindakan – atau lebih akurat tindakan yang di selesaikan ini juga merupakan piranti analisis  wacana, piranti itu adalah piranti  yang muncul tidak jauh dari pengaturan unit yang mendasari   pembicara dan yang diambil dan ditindaklanjuti oleh para pendengar. dan dari cara inilah bahasa yang digunakan dalam cara tujuan yang ada.
Analisis wacana dialektis lahir dari paradigma dialektika yang memandang bahasa sebagai ujaran, yakni wacana dipahami sebagai kumpulan unit struktur bahasa yang tidak lepas dari konteks. Dengan cara pandang tersebut, maka keberadaan kalimat dalam suatu wacana tidak dipandang sebagai suatu sistem (langue) tetapi juga dipandang sebagai parole. Dengan demikian,Arifin mengatakan bahwa, selain kaidah tata bahasa, konteks penggunaan bahasa juga harus di perhatikan pada saat menyusun suatu ujaran.
Piranti analisis wacana dialektis ( wacana kritis) ini meliputi (1) ‗common sense‘ dan ‗ideologi‘ (2) asumsi yang implisit, koherensi, dan Inferensi, (3) Interpretasi Pembaca dan Interpretasi Penulis, (4) Struktur wacana (supra, mikro, dan makro).
1)      Common Sense’ dan Ideologi
Menurut Fairclough dan Wodak(dalam Erianto, 2001:7) analisis wacana kritis melihat wacana – pemakai bahasa dalam tuturan dan tulisan- sebagai bentuk dari praktik sosial. menggambarkan wacana sebagai praktik sosial menyebabkan sebuah hubungan dialektis diantara pristiwa diskursif tertentu dengan situasi, institusi, dan struktur sosial yang membentuknya. Praktik wacana bisa jadi menampilkan efek ideologi: ia dapat memproduksi dan repsroduksi hubungan kekuasaan yang tidak imbang anatara kelas sosial, laki-laki dan wanita, kelompok mayoritas dan minoritas melalui mana perbedaan itu direpresentasikan dalam posisi sosial yang ditampilkan. Melalui wacana, sebagi contoh, keadaan yang rasis, seksis, atau ketimpangan dari kehidupan sosial dipandang sebagai suatu common sense, suatu kewajaran alamiah, dan memang seperti itu kenyataannya.Analisis wacana kritis melihat bahasa sebagai faktor penting, yakni bagaimana bahasa digunakan untuk melihat ketimpangan kekuasaaan yang terjadi di dalam masyarakat terjadi.
2)      Asumsi yang Implisit, Koherensi dan Inferensi
Seperti analisis wacana pada umumnya, AWK juga menggunakan piranti seperti asumsi yang implisit, koherensi, dan inferensi untuk mendapatkan interpretasi yang baik dan dekat sekali dengan kenyataan atau dengan makna yang disampaikan oleh penutur atau penulis.Untuk lebih memahami piranti ini, berikut dipaparkan sebuah contoh.
3)      Interpretasi Pembaca dan Penulis
Ketika seorang pembaca membaca sebuah wacana, secara tidak langsung pembaca tersebut ingin mengetahui sesuatu yang ditulis oleh penulisdan apabila mungkin menginterpretasikan apa saja yang dimaksud oleh penulis dalam wacana tersebut. Kondisi sosial tersebut menghubungkan ke tingkat organisasi sosial yang berbeda, yaitu tingkat situasi sosial atau lingkungan sosial tempat suatu wacana terjadi; tingkat lembaga sosial yang merupakan matriks wacana yang lebih luas; dan tingkat sosial secara keseluruhan. Jadi, apabila bahasa dilihat sebagai wacana dan praktik sosial, seseorang perlu melihatnya sebagai analisis tentang hubungan antara teks, proses dan kondisi sosial, baik kondisi yang erat hubungannya dengan konteks situasi maupun kondisi yang lebih jauh yang berhubungan dengan kondisi lembaga dan struktur sosial. Secara singkat dapat disebutkan sebagai hubungan antara teks, interaksi, dan konteks.
Moeliono (2000:117) juga mengungkapkan bahwa interpretasi pembaca sebenarnya tidak jauh dari makna yang dikemukakan oleh penulis atau sering disebut produser; tentunya produser dari teks tertentu. Produder teks sebenarnya sebelum menulis juga menginterpretasikan dunia nyata atau sesuatu yang terjadi ke dalam tulisannya. Jadi bisa dikatakan bahwa interpretasi pembaca tiada lain adalah interpretasi dari suatu interpretasi. Jadi sebenarnya interpretasi pembaca kurang lebih merupakan kombinasi antara apa yang tertulis di dalam teks dan apa yang ada di dalam benak pembaca atau penginterpreter itu. Secara rinci tahapan interpretasi itu dapat diumpamakan sebagai berikut :
1.      Tuturan yang ada di permukaan. Tingkat interpretasi pertama ini menghubungkan proses peginterpretasian bunyi atau huruf yang dapat dibaca di dalam teks ke dalam kata-kata atau kalimat-kalimat. Hal ini tergantungpada pengetahuan penginterpreter tentang fonologi, tata bahasa, dan kosakata
2.      Makna tuturan. Bagian ini memberi makna bagi setiap konstituen dalam teks dan bagian-bagiannya. Interpreter di sini mencari makna dengan jalan mengombinasikan antara arti kata-kata dan tata bahasa, termasuk juga mencari arti implisit yang tertera di dalam teks.
3.      Koherensi lokal. Tingakt ketiga mennetukan hubungan antara tuturan-tuturan untuk menghasilkan interpretasi yang koheren, yaitu koherensi yang berkenan dengan bagian-bagian teks.
4.      Struktur teks dan makna keseluruhan. Di tingkat ini diinterpretasikan seluruh makna teks itu dengan tidak lupa mempertimbangkan skemata yang diketahui.

4)      Struktur Wacana (Supra, Mikro, dan Makro)
Van Dijk melihat suatu teks terdiri atas beberapa struktur/tingkatan yang masing-masing bagian saling mendukung. Ia membaginya kedalam 3 tingkatan. Petama, struktur makro.Ini merupakan makna global/umum dari suatu teks yang dapat diamati dengan melihat topik atau tema yang dikedepankan dalam suatu wacana. Kedua, unsur suprastruktur. Unsur ini merujuk pada kerangka suatu wacana atau skematika, seperti kelaziman percakapan atau wacana yang dimulai dari pendahuluan, dilanjutkan dengan isi pokok, diikuti oleh kesimpulan, dan diakhiri dengan penutup. Bagian mana yang didahulukan, serta bagian mana yang dikemudiankan, akan diatur demi kepentingan pembuat wacana.Ketiga,unsur struktur mikro. Unsur mikro merujuk pada makna setempat (local meaning) suatuwacana. Unsur ini dapat digali dari aspek semantik, sintaksis, stilistika, dan retorika. Aspeksemantik suatu wacana mencakup latar, rincian, maksud, pengandaian, sertanominalisasi. Aspek sintaksis suatu wacana berkenaan dengan bagaimana frase dan ataukalimat disusun untuk dikemukakan. Ini mencakup bentuk kalimat, koherensi, sertapemilihan sejumlah kata ganti (pronouns). Aspek stilistika suatu wacana berkenaan dengan pilihan kata dan lagak gayayang digunakan oleh pelaku wacana.
Dalam kaitan pemilihan kata ganti yang digunakan dalam suatu kalimat, aspek leksikon ini berkaitan erat dengan aspek sintaksis. Aspek retorik suatu wacana menunjuk pada siasat dan cara yang digunakan oleh pelaku wacana untuk memberikan penekanan pada unsur-unsur yang ingin ditonjolkan. Ini mencakup penampilan grafis, bentuk tulisan, metafora, serta ekspresiyang digunakan.
Lebih lanjut Van Dijk mengungkapkan, meskipun sebuah wacana terdiri dari atas berbagai elemen, semua elemen tersebut merupakan suatu kesatuan, saling berhubungan dan mendukung satu sama lainnya. Makna global dari suatu teks (tema) didukung oleh kerangka teks, pada akhirnya pilihan kata dan kalimat yang dipakai. Kita bisa membuat ilustrasi pemberitaan kasus Maluku. Misalnya Koran A mengatakan bahwa kasus ini karena pertentangan antar agama. Tema ini akan didukung oleh skematik tertentu. Misalnya dengan menyusun cerita yang mengandung gagasan tersebut. Media tersebut juga akan menutupi fakta tertentu dan hanya akan menjelaskan peritiwa tersebut semata pada masalah konflik antara islam dan Kristen.
Pada tingkat yang lebih rendah, akan dijumpai pemakaian kata-kata yang menunjuk dan memperkuat pesan bahwa peristiwa Maluku hanya kasus agama semata. Menurut Littejohn, antar bagian teks dan model Van Dijk dilihat saling mendukung, mengandung arti yang koheren satu sama lain. Hal ini karena semua teks dipandang Van Dijk memiliki suatu aturan yang dapat dilihat sebagai suatu piramida.Makna global dari suatu teks didukung oleh kata, kalimat dan proposisi yang dipakai. Pertanyaan/tema pada level umum didukung oleh pilihan kata, kalimat atau retorika tertentu.

D.      Penutup
Dari beberapa penjelasan diatas mengenai bahwa Analisis wacana merupakan merupakan sebuah area bidang studi yang luas dan memiliki berbagai makna yang salah satunya dapat ditinjau dari dua buah pengertian. Asumsi utama tentang bahasa yang menjadi pusat analisis wacana berhubungan dengan konteks dan komunikasi. Terdapat  empat asumsi analisis wacana, yaitu tersebut adalah Bahasa selalu terjadi dalam konteks, Bahasa dipengaruhi oleh konteks, Bahasa selalu bersifat komunikatiif, dan Bahasa dirancang untuk komunikasi. Asumsi-asumsi ini menimbulkan pandangan yang berbeda dalam analisis wacana.  Pada dasarnya ada beberapa sudut pandang yang berbeda terhadap wacana, yaitu berdasarkan pandangan formal, fungsional, dan dialektis. Hubungan antara struktur, makna, dan tindakan dalam analisis wacana menyatakan beberapa sifat dalam wacana tidak menyatu namun tidak satu pun dari sifat-sifat ini (struktur, makna, dan tindakan) dapat dipahami tanpa memperhatikan sifat yang lain.
Sumber :
Brown dan Yule. 1996. Analisis Wacana. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.

Brown, Gillian and George Yule. 1986. Discourse Analysis. Cambridge: Cambridge University Press.
Cook, Guy. 2009. Discourse. Oxford: Oxford University Press.

Dijk,Teun A. Van. 1972.  News as Discourse. New Jerresey:Lawrence Elbaum Associate.
Firoza, Lamminudin, 2010. Komposisi Bahasa. Indonesia Jakarta: Diksi Insan Mulia.
Halliday dan Hassan. 1985. Language, context, and text.  London: Oxford University Press.